SADARI Selamatkan Wanita Dari Kanker Payudara

Kanker Payudara” dua kata yang cukup mengingatkan saya lagi dan lagi, dengan seorang pasien wanita yang pernah saya temui saat praktik klinik program kebidanan semester 1. Saat itu saya ditempatkan di bangsal perawatan umum khusus pasien wanita dengan berbagai penyakit. Namun, pasien dengan Kanker Payudara ini lah yang masih saya ingat hingga saat ini.

Saya masih ingat, bagaimana perjuangannya melawan kanker hingga akhir hidupnya. Usianya saat itu dibawah 40 tahun namun terlihat lebih tua. Ia begitu pasrah berbaring diranjang rumah sakit dipenuhi alat bantu mulai dari infus, oksigen dan cateter. Ia tidak bisa lagi bangun dari tempat tidurnya. Tubuhnya makin hari makin kurus dan lemah.

Setiap jadwal parktik, saya membantunya membersihkan diri juga membersihkan area sekitar payudara dengan sangat hati-hati. Mengganti alas tidurnya setiap hari. Dan saya juga menyisir rambutnya yang sudah mulai menipis. Ia hanya mampu bersuara pelan saat saya visit menanyakan keluhannya saat itu. Hari terus berganti, keadaan umum dan kesadarannya makin menurun.

Semakin hari Kanker Payudara menyebar ditubuhnya. Sel ganas itu telah sampai di otaknya. Sehingga anggota badannya makin sulit dikoordinasikan. Kakinya mulai bergerak tidak beraturan. Dokter dan perawat senior menjelaskan kepada keluarga untuk terus berdoa. Namun akhirnya kita semua harus merelakannya pergi untuk selamanya.

Masih teringat jelas diingatan saya bagaimana rasa duka dan kesedihan yang sangat dalam. Ketika Kanker Payudara memisahkan ibu dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Memisahkan suami yang setiap saat menjaga, berdoa dan berharap istrinya sembuh dari Kanker Payudara.

“Kejam” satu kata yang tepat untuk si Kanker Payudara. Tanpa permisi, tanpa keluhan, tanpa rasa sakit dia datang diam-diam tanpa kita sadari. Kita mungkin baru sadar saat Kanker Payudara ini sudah lama tinggal dan mungkin saja sudah menyebar.

Satu wanita menyelamatkan wanita lainnya

Satu kisah yang akan mengingatkan saya selamanya. Menjadi cambuk untuk saya agar lebih aware terhadap diri sendiri. Saya wanita yang harus rutin melakukan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) untuk pencegahan Kanker Payudara.

Kanker Payudara

Kanker payudara adalah terdeteksinya sel-sel ganas dalam jaringan payudara. Sel-sel yang mampu menyebar ke jaringan, organ atau bagian tubuh lainnya.

Angka kasus baru dan kematian di Indonesia akibat kanker pada tahun 2018 dan 2020 meningkat 8,8%. Hanya dalam waktu dua tahun, Indonesia menjadi negara ke-8 dengan penderita kanker terbanyak di dunia. Pertumbuhan kasus kanker Payudara tertinggi hingga 69 ribu kasus pada tahun 2020. Sehingga, Indonesia menempati posisi nomor satu dengan jumlah kematian tertinggi.

Penyebab Kanker Payudara

Belum diketahui secara pasti penyebab langsung Kanker Payudara. Hal ini sering dikaitkan dengan riwayat keluarga apakah pernah menderita kanker Payudara atau faktor resiko lainnya. Sulit untuk menentukan siapa yang paling beresiko mengidap kanker payudara. Resiko kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia. Kejadian tertinggi pada kelompok usia 55-59 tahun.

Ciri-Ciri Kanker Payudara

Saat kuliah, saya ingat dosen saya pernah menjelaskan tentang ciri-ciri Kanker Payudara. Yang paling saya ingat adalah “peau d’orange” artinya kulit tampak seperti kulit jeruk dan biasanya benjolan kanker payudara teraba keras, padat dan tidak dapat digerakan.

Berikut ciri-ciri kanker payudara yang mudah dikenali agar kita dapat melakukan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) :

  1. Adanya benjolan pada area dada atau disekitar ketiak.
  2. Payudara terasa sakit.
  3. Puting umumnya mengeluarkan cairan dan bukan ASI.
  4. Payudara berwarna kemerahan.
  5. Puting seperti tertarik kebelakang.
  6. Kulit teraba tebal dan keriput seperti kulit jeruk (peau d’orange).
  7. Ukuran payudara membesar secara mendadak.

Tingakat Stadium Kanker Payudara

Stadium 0

Sulit melakukan pengecekan mandiri pada stadium ini karena belum ada tanda-tanda fisik. Pada fase ini sel kanker masih berada di jaringan payudara dan belum menyebar.

Stadium 1

Stadium 1 merupakan stadium dini ditandai munculnya nyeri di area puting. Terdapat benjolan di payudara atau ketiak. Stadium 1 dibagi menjadi dua kategori, yaitu :

  1. Stadium 1A. Besarnya benjolan kurang lebih 2 cm, dan belum menyebar ke kelenjar getah bening.
  2. Stadium 1B. Besarnya benjolan kurang dari 2 cm atau tidak sama sekali. Namun, kanker sudah ditemukan di kelenjar getah bening.

Stadium 2

Stadium 2 awal, benjolan pada payudara semakin membesar dan sudah mulai menyebar. Stadium 2 dibagi menjadi dua kategori :

  1. Stadium 2A. Benjolan berukuran 2 cm mulai menyebar ke 1-3 kelenjar getah bening disekitarnya. Atau benjolan berukuran besar 2-5 cm namun belum menyebar ke kelenjar getah bening.
  2. Stadium 2B. Benjolan berukuran 2-5 cm mulai menyebar ke 1-3 kelenjar getah bening. Atau benjolan berukuran lebih dari 5 cm, namun belum menyebar ke kelenjar getah bening.

Stadium 3

Pada fase ini ukuran benjolan pada payudara lebih dari 5 cm. Stadium 3 merupakan stadium lanjutan dimana kanker sudah semakin parah karena sudah menyerang hampir seluruh area payudara. Stadium 3 dibagi menjadi tiga kategori yatu :

  1. Stadium 3A. Kanker telah menyebar ke 4-9 kelenjar getah bening pada ketiak juga memperbesar ukuran kelenjar getah bening di dada berapapun besarnya. Pada kasus lain benjolan dapat berukuran lebih dari 5 cm dan sudah menyebar ke 1-3 kelenjar getah bening pada ketiak atau kelenjar tulang dada.
  2. Stadium 3B. Benjolan mulai menginvasi kulit payudara dan mungkin telah menyebar ke 9 kelenjar getah bening.
  3. Stadium 3C. Kanker sudah menyebar ke lebih dari 10 kelenjar getah bening ketiak, tulang selangka, bahakan kelenjar susu internal.

Stadium 4

Fase stadium akhir dimana ukuran benjolan beragam, namun telah menyebar ke seluruh payudara hingga organ disekitarnya. Organ yang sering terserang yaitu hati, paru-paru, tulang, hingga otak. Pada fase ini pasien perlu penanganan ketat karena kanker sudah menyebar dan sangat mengancam nyawa.

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

SADARI merupakan langkah awal wanita untuk mendeteksi kanker sedini mungkin. SADARI sebaiknya dilakukan pada hari ke 4-7 setelah menstruasi. Langkah-langkah untuk melakukan SADARI yaitu :

  1. Berdiri didepan cermin dengan posisi bahu lurus dan tangan dipinggang.
  2. Perhatikan apakah ada perubahan warna dan bentuk.
  3. Kemudian angkat kedua tangan keatas dan perhatikan kembali area payudara dan sekitarnya.
  4. Tekan puting, apakah ada cairan keluar (bukan ASI).
  5. Selanjutnya berbaring sambil meraba payudara kiri dengan tangan kanan dengan gerakan memutar, cek apakah terdapat benjolan. lakukan hal yang sama pada payudara kanan.
  6. Ulangi langkah-langkah diatas dalam keadaan duduk dan berdiri.
image : pexel

Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS)

Pemeriksaan payudara klinis dapat dilakukan oleh dokter, bidan atau petugas kesehatan yang terlatih. Pemeriksaan yang dilakukan umumnya hampir sama dengan pemeriksaan SADARI yaitu inspeksi dan palpasi (perabaan mencari benjolan).

Perbedaannya, SADANIS dilakukan oleh tenaga medis ahli. SADANIS pada wanita usia 20-40 tahun dilakukan 2 tahun sekali. Untuk usia diatas 40 tahun dilakukan 1 tahun sekali.

Mamografi

Mamografi adalah alat deteksi dini kanker payudara. Payudara akan diperiksa satu persatu. Payudara diposisikan antara dua lempengan pada mesin mamografi. Kemudian payudara akan dikompres secara lembut selama kurang lebih 10 detik. Kemudian gambar jaringan payudara akan diambil dari sisi samping dan sisi atas. Waktu pemeriksaan biasanya kurang dari 30 menit.

USG Payudara

Pemeriksaan USG payudara dilakukan oleh dokter spesialis radiologi. Posisi pasien berbaring dengan kedua tangan keatas dan dokter akan melakukan pemeriksaan seluruh area payudara dengan mesin USG.

MRI Payudara

Pemeriksaan magnetic resonance image (MRI) menggunakan magnet dan gelombang radio untuk mengambil gambar jaringan. Pasien berbaring untuk masuk ke dalam alat MRI.

Pengobatan Dan Perawatan

Pengobatan dan perawan tergantung pada stadium kanker.

Operasi

Sebagian besar menjalani operasi mengangkat kanker. Bentuk operasi meliputi :

  1. Operasi pembedahan payudara
    Lumpectomy atau Wide Local Excision
    – pengangkatan kanker dan sejumlah kecil jaringan di sekitarnya.
    Quadrantectomy – pengangkatan jaringan di sekitarnya lebih banyak daripada lumpektomi. Untuk kuadektomi, seperempat payudara dikeluarkan.
  2. Mastektomi – pengangkatan seluruh payudara.

Rehabilitasi

Rehabilitasi baik fisik maupun mental untuk meningkatkan pemulihan.

Radioterapi

Radioterapi bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker. Radioterapi sangat penting setelah operasi payudara seperti lumpektomi. Karena sebagian besar jaringan payudara tetinggal utuh. Radioterapi berfungsi menurunkan kemungkinan kanker kembali timbul di payudara.

Terapi Sistemik

  1. Kemoterapi
  2. Terapi Hormonal
  3. Trastuzumab (Herceptin®)

Terimakasih, semoga sharing dari saya bermanfaat untuk kita semua.

image : pexel

Leave a Comment

avatar
  Subscribe  
Notify of